Menikmati Milky way di Bogor

Menikmati Milky way di Bogor

Menikmati Milky Way di kota Bogor sepertinya butuh kerja keras yang yang cukup besar, hal itu karena di kota bogor sudah banyak bangunan tinggi dan cahaya yang mengganggu. Tapi, sebelum kita cari spot terbaik untuk menyaksikan milky way di bogor, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan milky way yaaa..

Baiklah, temen-temen para pecinta galaksi. Sekarang kita akan berkenalan secara singkat dengan yang satu ini, tidak banyak orang mengetahuinya, apalagi menyadarinya. Padahal, ketika kita menyadarinya kemudian menyaksikan dengan seksama, insyaAllah akan lahir kearifan dari setiap tafakkur.

Pertama, kata Milky Way itu sendiri berasal dari kosakata bahasa inggris yang berarti Milky itu Bima dan Way itu Sakti, jadi Milky Way itu adalah nama Galaksi yang ada di tatanan kehidupan kita, yakni Galaksi Bima Sakti.

Bagi pecinta antariksa, menyaksikan milky way merupakan sebuah kebiasaan yang mungkin hampir setiap malam dilakukan, walau hanya sekedar menatap ke langit untuk melihat lebih dalam.

Saya pribadi sangat menyukai kegiatan ini, menyaksikan milky way tentu akan membuat decak kagum yang teramat bagi sebagian bahkan keseluruhan tubuh ini, membayangkan teramat luasnya langit yang Allah ciptakan sehingga akan sangat merendahkan dan melihat kecil tubuh ini diantara semesta yang teramat luas dan megah, dan sudah pasti Allah maha berkuasa atas semua ciptaan ini.

Begitulah salah satu alasan kenapa saya begitu merindukan kegiatan ini, dahulu ketika SMA setiap hari sabtu sore sepulang sekolah saya dan beberapa temen-teman satu kelas terbiasa untuk pergi mendaki di gunung kapur, sebuah bukit di ciampea yang tinggianya cukup untuk menjauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.

setelah kami berada di puncak, tidak perlu mendirikan tenda, karena musim sedang kemarau, sehingga kami bisa tidur berselimutkan dingin, beratapkan langit dan bercahayakan bintang-bintang yang tersusun rapi menampakkan kemaha besaran Allah, sesekali kami melihat ke bawah, lampu-lampu kota berkerlip, ada yang mati dan juga bertahan, semakin larut malam itu makan akan semakin sunyi, hanya ada saya dan Allah yang bersua dalam ketakjuban serta syukur.

Langit malam itu, selalu menjadi bagian dari yang dirindukan. Bertafakkur adalah cara terbaik untuk merenungkan diri serta penciptaan semesta ini, lalu kembali mengingat tentang nikmat-nikmat Allah yang telah diterima, sengaja atau tidak, diharapkan ataupun tidak, kesemuanya adalah keharusan bagi diri ini untuk bersyukur atas semua nikmat itu.

Begitupun nikmat ini, kesempatan untuk bisa menyaksikan langsung keindahan semesta. Bintang-bintang saling melempar do’a dalam lirih dzikir tiada dua. Keindahan dari kejauhan yang mempesona, dan kesemua itu adalah bukti kasih Allah yang maha Rahman dan Rahim kepada kita semua, hamba-hambaNya walau kita sering lupa dan penuh dosa.

Maka kesempatan terbaik pada saat itu adalah muhasabah, mempersaksikan diri sekecil yang tiada berdaya, dihadapan Allah yang maha perkasa. Kita mengadu pada Allah yang maha tahu. Kita Bersujud, memohon ampun, bercengkrama padaNya, curhat, Yaaa Allah, kami telah banyak melakukan dosa hingga hati ini semakin sesak olehnya, Sungguh Engkau maha kuasa dan maha pengampun, Engkau maha kasih dan sayang yang tiada ada makhluk satu pun di muka bumi ini yang melebihi kasih sayang Mu. Sungguh, aku malu ketika lisan ini berujar inginkan surga, padahal dosa bertumpuk menutupi seisi dunia, akan tetapi kami lebih malu jika diam ini terus berkuasa, mengalahkan jiwa untuk mengakui semua dosa, bahwa aku inginkan kembali pada Ridha Mu duhai Allah yang maha Kuasa.

Jadi, Sahabat…

Urgensi dalam bertafakkur adalah kembali kepada Allah, mari kembali kepadaNya.

Bismillah 🙂