PSBB Jilid II, Sektor Properti Siapkah?

PSBB Jilid II, Sektor Properti Siapkah?

Bogor – PSBB atau Pembatasan Sosial Bersekala Besar jilid II yang di sampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan pada beberapa hari terkahir ini bukan hal yang baru, kesiapan indonesia secara nasional sebelumnya memang tidak sepenuhnya dapat dibenarkan soal pernyataan presiden joko widodo mengenai new normal yang sampai saat ini belum menemukan titik terang dalam menyelesaikan persoalan pandemik di negeri +62 ini.

Akibat dari melonjaknya kasus covid-19 di indonesia salah satunya ialah terjadi di dunia internasional, dimana sekitar 52 negara membuat daftar hitam untuk indonesia, dan konsekuensinya adalah dilarangnya masuk atau keluar indonesia dari 52 negara tersebut. Hal ini tentu sangat merugikan indonesia.

Banyak tokoh nasional yang menyayangkan kebijakan pemerintah pusat yang dinilai lamban dalam menyelasaikan persoalan ini, dimulai dari pernyataan-pernyataan yang kontradiktif tokoh pejabat pemerintahan jokowi hingga banyak kebijakan yang dinilai sia-sia, sehingga polemik yang terjadi malah membuat semakin runyamnya permasalahan yang ada.

Tentu, salah satu yang terkena dampaknya adalah sektor ekonomi, dan properti menjadi bagiannya.

Kebutuhan masyarakat akan hunian syariah sementara ini masih dianggap stabil jika dibandingkan dengan hunian konvensional, hal ini dinilai dari minat hunian yang masuk, baik dari laporan marketing versi agensi dan developer maupun trafik kunjungan survey ke lokasi perumahan syariah.

Sampel ini dilakukan pada beberapa agensi properti dan lokasi properti syariah di jabodetabek versi rumah syariah bogor (rumahsyariah_in) per satu semester 2020

Ada beberapa alasan yang menyebabkan properti syariah tetap stabil, yaitu diantaranya :

  1. Properti syariah lebih fleksibel, beli langsung dengan developer menjadi alasan utama kenapa masyarakat memilih properti syariah. Selain tidak adanya riba, denda, gharar, atau bahkan pinalty. Masyarakat juga lebih diuntungkan dengan banyaknya bonus serta kemudahan traksaksi dan proses jual beli.
  2. Akibat Inflasi yang cukup tinggi menyebabkan kurs mata uang rupiah anjlok terhadap dolar, ini juga menjadi salah satu penyebab kenapa masyarakat membeli properti syariah di masa pandemik. Pandemik menyebabkna resesi cukup parah terhadap dunia ekonomi dunia, salah satunya indonesia. Dan bank menjadi salah satu yang terkena dampak sangat serius di masa resesi ini.

 

Masih ada lagi alasan kenapa properti syariah masih lebih baik selama pandemik ini, untuk lebih lengkapnya nanti akan kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

Jakarta insyaAllah akan melaksanakan lagi PSBB tanggal 14 September 2020, dan pasti dunia usaha akan mendapatkan dampaknya. Apapun itu, kita akan terus berusaha melakukan yang terbaik guna mendukung upaya pemerintah dalam menghentikan penyebaran covid-19 di indonesia.